LAXIANCE KINGDOM AND PEGAZUSE
Hutan itu sebenarnya tak terlalu lebat, luasnya juga tak seberapa. Tapi di malam hari, tempat itu tetap saja terasa menakutkan. Nancy bergidik, sesaat ia menyesal kenapa tidak memakai jaket. Udara malam itu begitu dingin ditambah lagi kegelapan di sekitarnya membuat bulu romanya berdiri tegak.
Cahaya senter menyapu jalan setapak yang sempit dan berumput itu. Pepohonan pinus dan cemara tumbuh merapat dan jalanan mulai menanjak. Hutan itu berada di salah satu sisi lereng bukit. Cukup banyak warga desa yang mencari kayu bakar ataupun sekedar berburu di hutan itu tapi tentu saja tidak pada malam hari seperti ini.
Nancy menyibakkan semak-semak liar dan ilalang yang tumbuh tinggi. Ia pun mulai mengumpulkan ranting maupun dahan pepohonan yang berserakan di atas tanah berumput kasar itu. Kerumunan nyamuk dan serangga lainnya seakan menggelitiki tubuhnya. Ia berusaha menepis rasa takut yang sesekali hinggap di hatinya. Suara jangkrik dan binatang lainnya saling bersahutan, mengingatkannya pada suatu grup paduan suara.
Nancy tersenyum puas. Rasanya ia sudah mendapat cukup banyak kayu bakar. Pikirnya, Bibi Monda pasti akan senang. Ia pun mengikat kayu-kayu itu dengan seutas tali dan ia terpaku setelah berhasil membuat simpul terakhir.
Sesuatu yang dingin menyapu tengkuknya dan tiba-tiba angin bertiup kencang menerbangkan debu dan dedaunan kering. Nancy memejamkan mata dan mengangkat sebelah tangan untuk melindungi wajahnya. Dahan-dahan pepohonan berderak keras dan meliak-liuk dengan liarnya.
Nancy mencengkram erat-erat apa saja yang ada di dekatnya sebelum angin kencang itu menghempaskan tubuhnya. Keadaan itu hanya berlangsung selama beberapa menit dan alam pun kembali tenang. Tapi sesuatu kembali membuatnya diam membatu. Suara itu! Ia mendengar suara ringkihan panjang yang begitu menyayat. Ia langsung berdiri tegak. Baru disadarinya kalau kedua lututnya gemetar dan kakinya jadi seperti jelly lunak.
Suara ringkihan itu kembali terdengar dan Nancy semakin menggigil. Tapi entah apa yang membuatnya melangkah ke asal suara itu. Dalam keresahan yang begitu menggayut, tangannya mencengkram senter dengan begitu kuatnya hingga kuku jarinya memutih dan kayu bakar itu seakan terlupakan, ditinggalkannya begitu saja.
Nancy meneguk ludah dengan susah payah. Ia terus mendaki hingga pepohonan pinus mulai jarang dan ia tiba di sebuah tanah lapang di puncak bukit. Suara ringkihan itu kini terdengar sangat jelas dan Nancy seketika membelalak lebar saat dilihatnya sosok itu. Senternya terlepas dari genggamannya, menggelinding di atas tanah berumput dekat kakinya. Mulutnya ternganga dan ia hanya mematung dengan tubuh demikian beku. Rasa takutnya perlahan-lahan sirna dan tergantikan ketakjuban yang luar biasa kala ia memandang sosok indah itu.
Sosok kuda berbulu putih yang seakan bersinar di tengah kegelapan malam dan bermandikan cahaya bulan yang pucat. Itu bukan kuda biasa. Di punggungnya ada sepasang sayap yang indah membentang di udara. Bulu di kepalanya agak panjang mirip rambut dan tampak sebuah tanduk emas yang bercahaya.
“Wow!” hanya itu yang bisa terucap dari bibir Nancy. Ia tahu makhluk apa itu tapi ia benar-benar tak percaya pada apa yang dilihatnya. Ia mengerjapkan matanya, lagi dan lagi. Namun sosok itu masih berdiri di hadapannya, berkilau di bawah purnama.
“Pe—Pegazuse!” gumamnya akhirnya setelah berhasil mengeluarkan kata-kata yang semula tersumbat di tenggorokannya. Dengan nafas yang masih menderu, ia kembali mengagumi sosok itu, “Benarkah kau ini—Pegazuse? Maksudku—rasanya ini sungguh sangat mustahil. Aku pikir Pegazuse cuma ada di dongeng,” ia terbata hingga bibirnya menipis dan melengkung dalam sebuah senyuman. Ia mencoba mencubit lengannya, berusaha menyadarkan diri, ia tengah bermimpi atau tidak. Dan ia meringis saat rasa sakit menjalarinya.
Kuda putih itu kembali meringkih dan kepalanya yang bertanduk emas terangkat ke langit cerah berbintang dengan anggunnya. Dia menghentakkan kakinya, meronta-ronta dan meringkih dengan suara yang lebih mirip sebuah rintihan. Sesaat Nancy menyadari, dalam cahaya bulan yang lembut dilihatnya sebuah panah berbulu keemasan menancap di bagian yang seharusnya adalah perut, meninggalkan noda merah kehitaman di badan Pegazuse yang putih itu.
“Oh kau terluka,” Nancy mengerutkan kening dengan prihatin. Rasa iba dan sedih mulai menguasai dirinya. Ia pun melangkah maju dengan hati-hati, nyaris tidak bersuara dan hanya meninggalkan bekas jejak kaki di belakangnya. Tampak Pegazuse itu kembali merintih dan semakin meronta. Mata kecilnya melebar, menatap gadis itu dengan pandangan ketakutan.
“Tenang, aku takkan melukaimu,” desis Nancy seraya mengangkat kedua tangannya sebagai tanda bahwa dirinya tidak bermaksud jahat, “A—aku akan menolong menyembuhkanmu. Kau tidak keberatan, ya kan?”
Kuda putih seketika terdiam seakan bisa memahami ucapan Nancy. Ia menelengkan kepalanya. Dengan mata terpicing, ia memperhatikan dengan seksama gadis yang berjalan menghampirinya. Sementara itu Nancy masih mengangkat kedua tangannya. Sungguh aneh saat Pegazuse itu terpincang-pincang mendekatinya perlahan. Dan ia hanya bisa terpaku keheranan sementara kuda putih itu kini hanya berjarak semeter dari tempatnya berdiri.
Nancy masih terpaku dalam keterkejutannya hingga yang ada antara dirinya dan Pegazuse itu hanyalah kesunyian malam yang beku. Angin kembali berdesing dan menerbangkan butir-butir debu yang tersisa dalam sebuah pusaran. Kuda itu kembali meringkih dengan kepala terangkat laksana serigala yang melolong panjang ke arah bulan. Nancy tertegun dan dengan takut-takut ia membelai bulu kuda yang seakan bersinar keperakan. Secara ajaib Pegazuse itu menundukkan kepalanya dan menekuk kedua kakinya seperti memberi hormat, membuat Nancy tersentak kaget.
“Maafkan saya tidak mengenali Anda, Yang Mulia.”
Nancy terhenyak dan langsung jatuh terjengkang. Bola matanya nyaris terlontar dari rongganya. Jantungnya berdegup begitu kencang dengan irama yang amat kacau.
Siapa itu yang tadi berbicara?
“Maaf kalau saya mengejutkan Anda, Yang Mulia,” Pegazuse itu semakin menundukkan kepalanya. Nancy merasakan seperti ada suatu kekuatan gaib yang mencekik lehernya dengan sebuah simpul mati. Dan dengan tubuh gemetar hebat, ia merangkak mundur. Dadanya naik turun dalam nafas tersengal-sengal. Ia ingin menjaga jarak sejauh mungkin ia bisa dari binatang aneh itu.
Binatang? Mana ada binatang yang bisa bicara?
Tidak! Ini pasti ada yang salah! Melihat Pegazuse saja merupakan hal gila apalagi Pegazuse yang bisa bicara. Siapa yang akan percaya. Batin Nancy ngeri.
“Yang Mulia—”
“PERGI! JANGAN DEKATI AKU!” pekik Nancy setengah berteriak. Rasa takut dan panik mulai mencambuk hatinya dengan begitu keras.
“Yang Mulia, tolong dengarkan saya—”
“Kau—” Nancy gelagapan dan semakin beringsut mundur, “Si—siapa kau sebenarnya?” tanyanya dengan suara bergetar. Butir-butir keringat dingin muncul di dahinya. Ia ingin berkata lebih banyak lagi, namun bibirnya bergerak dalam ucapan yang tak jelas.
Pegazuse itu kembali menegakkan kepalanya, membentangkan sayap lebar-lebar ke arah bulan. Dan sosok itu menjadi semakin bersinar. Cahayanya begitu menyilaukan layaknya mentari di tengah hari, menyebabkan Nancy harus memicingkan mata karena silau. Ia tak bisa melihat dengan jelas. Malam seakan berubah menjadi siang. Dan kegelapan segera enyah dalam sekejap.
Sosok kuda putih itu berpendar. Nancy masih terkesima namun dicobanya untuk bangkit. Ia kian membeku saat Pegazuse tiba-tiba memudar menjelma menjadi sosok seorang laki-laki.
Mulut Nancy terbuka dengan air muka begitu terperangah dan bola matanya semakin bulat. Di depannya tampak seorang pemuda tampan dengan pakaian putih indah ala bangsawan kuno yang sering dilihatnya di film-film. Rambut laki-laki itu berombak berwarna pirang keperakan dan matanya yang tajam berwarna kuning, mengingatkan Nancy pada sepasang mata kucing. Dan ada sesuatu yang tidak berubah. Tanduk emas yang bersinar itu ada di kepalanya, dekat dengan batas rambut dan dahinya, seperti tanduk emas Pegazuse tadi.
“Saya Heliost, penjaga Archiecarias,” laki-laki itu membungkukkan badan dalam-dalam sementara salah satu tangannya mencengkram sisi perutnya yang terluka.
Nancy bisa melihat darah merah yang semakin luas membasahi pakaian putih yang membungkus tubuh Heliost. Masih dengan panah berbulu emas yang menancap. Gadis itu mendesah dengan berat. Tanpa disadarinya sejak tadi ia terus menahan nafas. Ia menyeka keningnya dan tatapannya tak terlepas sedikit pun pada sosok aneh Heliost. Keringat dingin kini semakin membanjir dan kengeriannya belum sirna juga hingga kerongkongannya menjadi begitu kering kerontang.
Pegazuse! Makhluk ajaib dari negeri dongeng ada di hadapannya. Bukan hanya bisa bicara, Pegazuse itu menjelma menjadi manusia. Bagaimana bisa?
Nancy melangkah mundur meskipun ia sadar ada sebersit rasa iba muncul di hatinya melihat sosok itu semakin berdarah-darah. Namun rasa takutnya jauh lebih besar. Satu hal yang ia tahu, ia harus pergi dari tempat ini sekarang juga. Lebih baik ia harus berhadapan dengan Bibi Monda yang galak tanpa harus membawa kayu bakar daripada bersama makhuk itu.
“Yang Mulia Claryn, tolong jangan pergi,” kali ini Heliost menegakan badan, menatap Nancy dengan pandangan memohon dari matanya yang kekuningan.
“Claryn?” Nancy tercenung mendengar kata itu. Ia menggeleng dan mengerutkan kening—bingung. Entah mengapa rasanya nama itu tak asing lagi baginya. Ia berusaha mengumpulkan segala yang dapat diingatnya. Tapi semua itu rasanya sia-sia, kepalanya justru semakin berdenyut-denyut tak karuan.
“Ya, itu adalah nama Anda, Yang Mulia,” laki-laki itu kembali berkata, “Sudah berpuluh-puluh tahun saya mencari Anda dan ternyata ramalan Amonz benar. Saya akan menemukan Anda pada purnama yang ke 999.”
Mulut Nancy bergerak dan komat-kamit, mencoba mengeluarkan suaranya yang tercekat tapi yang terdengar hanya suara seperti orang yang tercekik dan lidahnya mendadak menjadi begitu kaku, “Ma—maaf, saya rasa Anda salah orang. Sa—saya Nancy dan—”
Ucapan Nancy terhenti dan seketika ia terdiam. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba ia merasa sangat gugup dan kalut. Namun sesuatu mengusik benaknya. Sesuatu yang sangat tidak masuk akal dan mendadak membuatnya bimbang, “—saya memang hilang ingatan dan saya tidak tahu siapa diri saya. Tapi saya tahu saya bukan Claryn,” ia berusaha menyelesaikan kalimatnya dengan susah payah dan melangkah mundur.
Mata kuning Heliost menyipit dengan tajam, mengarah tepat pada kedua bola mata Nancy. Dan mendadak gadis itu merasakan suatu sensasi rasa hangat di kepalanya yang menjalar ke setiap inci tubuhnya. Lalu sesuatu pun terjadi. Ia kembali melihat padang rumput dan kastil itu. Kastil megah di puncak bukit bertebing, dengan atap-atap kerucut dan beberapa menara yang menjulang tinggi. Persis seperti dalam mimpinya. Dan semenit kemudian ia seakan tersadar dari hipnotis.
Nancy terhenyak di tempatnya, terengah-engah. Sekarang kepalanya pusing sekali. Hatinya kian resah dan ia terbenam dalam pikirannya.
Kastil itu? Bukit itu? Tidak! Tidak mungkin kalau semua itu hanya khayalannya belaka. Padang rumput dan kastil yang selalu muncul dalam mimpinya belakangan ini. Dan terasa amat nyata. Bagaimana mungkin ia merasa begitu familiar, begitu mengenal tempat yang tak pernah dikunjunginya sekali pun. Atau memang ia pernah berada di sana?
“Tentu saja,” gumam Heliost membuyarkan lamunannya. Dan ada nada terkejut dalam suara lembut laki-laki itu, “Amonz sengaja menghapus ingatan Anda supaya Fortecuse tidak bisa melacak keberadaan Anda. Cerdik, sangat cerdik sahabatku Amonz—”
“STOP!” potong Nancy tiba-tiba, nyaris berteriak. Ia sungguh tak mengerti apa yang tengah terjadi dan ia seakan merasa sama tidak warasnya seperti laki-laki bernama Heliost itu, “Maaf harus berapa kali saya katakan kalau saya bukan Claryn dan saya sungguh tidak tahu semua yang Anda katakan,” sahutnya lantang hingga tanpa sadar ia merasa begitu terluka mengatakan semua itu.
Heliost tersentak kaget. Selama beberapa saat hanya ada kebisuan yang menyakitkan. Ia pun menggeleng sedih seraya berkata, “Seharusnya tidak seperti ini. Tapi biar saya jelaskan,” gumamnya dengan kekecewaan yang begitu mendalam. Ia terus memandang Nancy dengan memohon, berharap gadis itu percaya dengan apa yang akan dikatakannya, “Anda adalah Putri Claryn dari kerajaan Laxiance dan Anda adalah pewaris tahta yang sah. Paman Anda yang penyihir hitam, Fortescue, berusaha menguasai Laxiance. Tapi sampai sekarang ia takkan bisa berhasil. Selama Amonz dan saya masih setia pada Anda, Fortescue takkan pernah memimpin Laxiance. Amonz adalah penyihir terhebat sepanjang masa di Laxiance dan saya akan menjaga Archiecarias maupun Golden Pearl dengan seluruh jiwa raga saya.”
Nancy merasa sekelilingnya semakin berputar, jauh lebih cepat dari pusaran angin di sekitarnya yang menerbangkan debu dan dedaunan kering. Ia sungguh tak paham satu kata pun yang diucapkan Heliost, “Tolong hentikan semua omong kosong ini,” pekiknya mulai kesal. Ia tak mau dibodohi seperti anak kecil. Di dunia ini tidak mungkin ada yang namanya Pegazuse, penyihir dan hal-hal sejenis itu. Tak mungkin ada. Ia tak percaya dan tak ingin percaya. Ia yakin saat ini pasti ia sedang berhalusinasi. Ya pasti begitu, mungkin saja ia sudah sangat tertekan dengan kelakuan Bibi Monda hingga dirinya seakan menjadi gila, “Dengar, saya bukan Claryn—”
“Anda adalah Yang Mulia Claryn,” kata Heliost berkeras meskipun sikapnya masih begitu hormat. Dan ia menghela nafas dengan putus asa, “Yang Mulia—sekarang rakyat Laxiance sangat membutuhkan Anda. Fortescue menyebarkan kegelapan dimana-mana. Sekian lama saya mencari Anda. Anda harus pulang. Percayalah, Anda benar-benar Putri Claryn.”
Nancy semakin menjauh dan berusaha tertawa tapi suaranya terdengar parau, “Lalu apa buktinya kalau aku memang Claryn?” tandasnya berusaha menahan luapan perasaannya yang sekarang sangat kacau.
“Saat Anda mengangkat tangan Anda, saya langsung tahu Andalah Yang Mulia Claryn yang saya cari. Tanda lahir di telapak tangan Anda adalah buktinya,” Heliost mencoba meyakinkan tapi keraguan telah menyelimuti seluruh hati Nancy.
“Tanda lahir?” Nancy tertegun, mendadak ia jadi begitu lemas. Benaknya kian tersiksa dan ia hanya bisa tersenyum pahit. Dilihatnya guratan indah di telapak tangannya, seperti pahatan maha karya seniman terbesar di segala abad. Ia memang berharap, suatu hari nanti tanda lahir itu akan mengungkapkan identitasnya. Tapi bukan begini yang diharapkannya. Tadinya ia membayangkan kedua orang tuanya yang akan menjemput dan membawanya pergi dan bukannya makhluk ajaib Pegazuse ataupun si misterius Heliost.
“TIDAK! Pasti ada banyak orang yang mempunyai tanda lahir seperti ini,” Nancy menggeleng keras-keras, berusaha menyangkal. Namun sesuatu dalam hatinya seakan berkata kalau ia tengah membohongi dirinya sendiri dengan berkata seperti itu.
Heliost menatap gadis itu dengan begitu sedih. Ia tak menyangka akan begitu sulit meyakinkan Putri Claryn padahal waktu yang dimilikinya sangat sempit. Ia semakin berdarah dan racun itu sepertinya telah menyebar hampir memenuhi seluruh nadi di tubuhnya. Ia takut ajal akan menjemput sebelum ia mengungkapkan kebenaran itu pada Yang Mulia Claryn, “Itu adalah lambang kerajaan Laxiance dan hanya pewaris tahta yang sah yang mempunyai tanda lahir seperti itu.”
Tanda lahir di tangannya itu lambang Laxiance?
“TIDAK! INI NGGAK MUNGKIN,” tukas Nancy dingin dan ia merasakan kepalanya semakin berat.
“Anda harus percaya Yang Mulia, beberapa saat yang lalu saya juga melihat menembus mata Anda. Saya tak mungkin salah dan Anda pasti tahu akan hal itu. Anda benar-benar Putri dari kerajaan Laxiance,” seru Heliost yakin kemudian ia menekuk salah satu kakinya dan membungkuk hormat, “Tolong Yang Mulia, saya mohon ikutlah dengan saya. Anda harus kembali ke Laxiance.”
Nancy ternganga. Sesuatu seakan menyesakkan dadanya. Matanya memanas dan entah kenapa ia merasakan perih yang sangat tajam. Sesuatu yang tak bisa dipahami akal sehatnya. Ia pun berbalik dan berlari pergi, menerobos hutan setelah meraih senternya hanya dalam hitungan detik.
“YANG MULIA!” seru Heliost terkejut.
Nancy bisa mendengar suara derap kaki yang mengejarnya tapi ia berusaha terus mengayunkan langkah secepat mungkin. Ia terus berlari dan berlari dengan kesedihan yang tak dimengerti olehnya. Heliost terus meneriakkan namanya. Kabut pekat menghalangi pandangannya dan air matanya mulai jatuh lebih menakutkan dan jauh lebih menyakitkan dari semua hal yang pernah dialaminya.
“Yang Mulia, tunggu!” kembali terdengar seruan dari belakang tapi Nancy tak menoleh sedikit pun. Yang ia tahu ia tak boleh berhenti. Ia tak peduli pada kemarahan Bibi Monda yang akan menghadangnya. Setidaknya ia terhindar dari laki-laki itu, terhindar dari Heliost.
Sudah separuh perjalanan ia berlari dan samar-samar ia mendengar suara erangan pelan namun ia mencoba tak mempedulikan meski sebenarnya ia merasa sakit karena berusaha mengabaikannya.
“Yang Mulia Saya mohon—” kata-kata Heliost terputus dan ia kembali mengerang kesakitan.
Nancy menggigit bibir dengan cemas. Di belakangnya tampak Heliost yang masih susah payah mengejarnya. Ia semakin menangis dalam langkah panjangnya.
“Yang Mulia—Tolong—AAAAAARRGH!”
Nancy tersentak saat terdengar jeritan nyaring yang merobek keheningan malam, merobek jiwanya seketika itu juga. Jeritan yang mirip lolongan panjang binatang terluka yang kemudian disusul suara berdebam keras benda jatuh di atas tanah.
Nancy mencoba menajamkan pendengarannya. Tak ada lagi suara langkah kaki yang mengejarnya. Tak ada lagi seruan Heliost. Tiba-tiba suatu kekalutan menggerogoti hati Nancy. Ia pun menghentikan langkahnya dan menoleh dengan perasaan demikian hancur. Pipinya telah basah oleh air mata. Dan sekali lagi yang dilihatnya hanyalah kegelapan hutan.
“He—Heliost!” panggil Nancy lirih tapi tidak ada sahutan apapun. Ia kembali berseru dengan lebih lantang.
“He—Heliost! Kau tidak apa-apa?”
SUNYI!
Nancy menyeka kristal bening di sudut matanya dan dengan ragu kembali berjalan ke arah berlawanan. Cahaya senter kini menerangi jalan setapak yang sama seperti yang baru saja dilewatinya. Baru beberapa ratus meter ia melangkah, tubuhnya mendadak kaku kala menemukan sosok Heliost terkapar di atas tanah berumput.
Didapatinya wajah Heliost yang pucat pasi. Darah merah semakin membasahi pakaian laki-laki itu dan menggenangi tanah kecoklatan di sisinya. Nancy bisa merasakan tangan Heliost yang menjadi sedingin es. Dan suatu ketakutan mendalam merayapi jiwa Nancy saat dilihatnya cahaya tanduk emas Heliost mulai meredup.
“Ma—maafkan saya Yang Mulia,” ucap Heliost dengan susah payah. Suaranya begitu lirih nyaris tak terdengar dan sedetik kemudian ia mencengkram sisi perut yang tertusuk anak panah. Dan Nancy sadar keadaan laki-laki itu semakin melemah, kritis.
“Harusnya aku yang minta maaf,” bisiknya menyesal dan sesuatu yang hangat mengalir di pipinya. Tiba-tiba saja ia merasa begitu takut kehilangan laki-laki itu. Rasa takut yang amat sangat.
“Ya—Yang Mulia,” Heliost terbata-bata, “Saya tak punya banyak waktu lagi. Ini adalah panah beracun Fortescue. Dalam 24 jam racunnya akan membunuh saya. Sekarang waktu yang tersisa tinggal 1 jam. Walaupun terluka saya rela mencari Anda. Karena ini adalah tugas saya demi kelangsungan Laxiance. Yang Mulia—Anda harus percaya.”
Sesuatu yang perih menggores hati Nancy dan ia semakin terisak. Heliost terluka seperti itu dan sekarat karena dia dan Heliost terus mencarinya demi pengabdian yang tulus pada Laxiance. Mungkin sebenarnya ia mencoba untuk tidak percaya ucapan Heliost karena sesuatu dalam dirinya menolaknya untuk percaya.
“Yang Mulia—”
“Sudah kau jangan bicara lagi,” seru Nancy kian meratap, “A—aku percaya padamu,” gagapnya setelah keraguan itu perlahan-lahan sirna.
Heliost menatap gadis itu dengan mata berkaca-kaca, begitu bahagia dan terharu karena akhirnya ia bisa meyakinkan Putri Claryn, “Yang Mulia, saya harus segera ke Archiecarias, kalau tidak, saya akan mati dan lepasnya Golden Pearl dari diri saya akan sangat berbahaya bagi Laxiance.”
Nancy semakin terbenam dalam tangisnya, “TIDAK! KAU TIDAK BOLEH MATI. Kau bilang selama ada aku, kau dan Amonz, maka Fortescue takkan bisa menguasai Laxiance,” jeritnya tak kuasa menahan segenap kesedihannya.
“Anda benar, Yang Mulia,” Heliost tersenyum lemah. Ia menengadah ke arah bulan dan kembali berbicara dengan pandangan menerawang jauh, “Tapi dalam keadaan seperti ini saya tidak bisa membawa Anda ke Laxiance. Terlalu berbahaya bagi Anda dan saya. Anda harus memanggil Amonz.”
“Memanggil Amonz?” Nancy terperanjat. Cepat-cepat ia menghapus air matanya, “Ta—tapi bagaimana caranya?”
“Anda harus—” kata-kata Heliost menghilang dan Nancy terhenyak menyaksikan kedua mata Heliost yang kian menutup dan cahaya tanduk emas itu nyaris padam.
“TIIDAAAKK!” jerit parau Nancy memecahkan segala keheningan yang ada, “KAU TIDAK BOLEH MATI!” diguncang-guncangkannya tubuh Heliost tapi sosok itu kini tak bergerak lagi, “BAGAIMANA CARANYA AKU MEMANGGIL AMONZ?” rintihnya. Ia mendekap sosok Heliost dalam pelukannya dan tangisnya pun pecah tak tertahankan.